Ketetapan Atas Setiap Insan Yang Beriman
Oleh: Abu Abdillah Irsan, S.H.
Pernahkah kita
menyisihkan waktu sejenak, untuk merenungkan dan memikirkan kemana akan kita
bawa diri ini, merenungkan apakah hakikat setiap langkah yang kita tapaki. Pagi
hari kita memulai aktivitaas kemudian datang setelahnya siang hari, sore hari
dan tibalah malam hari, demikianlah seterusnya hingga kematian datang
menghampiri.
Saudaraku, sejatinya segala sesuatu
yang kita dapati didalam dunia ini adalah ujian, baik hal hal yang kita sukai
maupun hal-hal yang tidak kita sukai. Allah Ta’ala berfirman:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن
يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢
“Apakah manusia
itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah
beriman", sedang mereka tidak diuji lagi” (QS.al-‘Ankabut [29]:2)
Pertanyaan yang sejatinya tidak
membutuhkan jawaban. Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan menguji
hamba-hambanya yang beriman sesuai dengan tingkat keimanan dan ketaqwaan mereka
masing-masing, sebagaimana Rasulullah ﷺ
besabda ketika ditanya siapakah orang yang paling berat unjiannya:
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى
الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ
وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ
بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“(Manusia yang paling berat ujiannya)Para Nabi, kemudian
yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi
agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula
ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas
agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan
di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan shahih oleh
al-imam al-albany dalam shahih wa dhaif sunan at-Tirmidzy, no.2398).
Kita semua pasti diuji, pasti, dan
pasti. Karena kita adalah umat yang Allah Ta’ala menjanjikan kepada kita surga
yang penuh kenikmatan, dan kita tidak akan pernah memasukinya sebelum Allah
menurunkan kepada kita ujian. Allah Ta’ala berfirman:
أَمۡ
حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ
خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ
حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ
أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya
orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga
berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah
datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat.”(QS.al-Baqarah[2]:214)
Suatu ketika hamba yang beriman akan
diuji oleh Allah Ta’ala dengan hal-hal yang tidak ia sukai, dari kekurangan
harta, jiwa, bencana alam, kebakaran dan segala kesempitan hidup.
Ingatkah kita kisah haru tentang
kisah nabi Ayyub ‘Alaihi salam? Ketika hartanya yang dahulu melimpah, namun
menjadi tak tersisa, anak-anaknya pun meninggal dunia, hingga ia pun tertimpa
penyakit yang seakan tak berujung. Bahkan Rasulullah ﷺ
bersabda:
“sesungguhnya
dahulu Nabi Allah Ayyub ‘Alaihi salam berada dalam ujian (berupa penyakit)
selama 18 tahun.” (HR.Ibnu Hibban, Kitabul Janaiz wa ma yata’allaqu biha
Muqoddaman wa muakhkharan, bab MA ja-a fi shabr, no. 2898 dari sahabat anas bin
malik rhadiyallohu ‘anhu)
Kalau kita sakit? sehari, dua hari,
seminggu sembuh. Nabi Ayyub ‘Alaihi salam 18 tahun bersabar menghadapi ujian
tersebut. Sudah barang tentu yang sakitnya sehari atau dua hari lebih layak
untuk bersabar.
Allah Ta’ala juga menguji Seorang
hamba dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, berupa harta, istri-istri dan
anak-anak serta segala sesuatu yang menghiasi kehidupan dunia ini. Allah Ta’ala
berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ
مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ
وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ
ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمََٔابِ ١٤
“Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. al-Imran[3]:14)
KEHIDUPAN
DUNIA SELURUHNYA ADALAH UJIAN
Bahkan rangkaian ibadah yang Allah Ta’ala tetapkan
kepada kaum muslimin dalam kehidupan di dunia ini seluruhnya adalah ujian dari
Allah Ta’ala. Kita mendengar dan membaca firman Allah Ta’ala:
۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ
بِهِۦ شَيۡٔٗا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.“(QS.an-Nisa[4]: 36), maka ketahuilah sesungguhnya Allah Ta’ala
menguji hamba-hambanya, siapa dari mereka yang mengesakan-Nya dalam beribadah
dan siapa yang menyekutukan-Nya.
Sekiranya ada di antara kaum
muslimin yang mudah baginya untuk beramal shalih, maka hendaknya ia menyadari
bahwasanya kemudahan tersebut adalah ujian dari Allah, apakah ia merasa telah
menjadi sosok yang paling banyak amalnya, sehingga ia menengadahkan kepalanya
dengan angkuh, serta meremehkan dan merendahkan saudaranya, ataukah ia akan
menjadi hamba yang tulus mengharap ridho Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman:
تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ
ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ
لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢
“Maha Suci
Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS.
al-Mulk[67]:1-2)
Demikianlah ketetapan atas setiap
insan yang beriman, ia diuji, ia akan mengahadapi hal-hal yang dapat
mengantarkannya kepada kebahagiaan dan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala,
mengantarkannya kepada kenikmatan yang tidak pernah disangka, ataupun
sebaliknya yang dapat menenggelamkannya kedalam kobaran api neraka tempat
kembali orang orang yang celaka.
Tidak ada pilihan bagi setiap muslim
melainkan dia harus bijak dalam mengahdapi setiap ujian, bersabar atas hal-hal
yang tidak ia sukai, dan bersyukur atas hal-hal yang ia sukai, dan senantiasa
teguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan senantiasa menjauhi
larangan-larangan-Nya. Demikianlah sifat dan konsekuensi dari hamba Allah Ta’ala
yang beriman. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا
لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ
أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya
itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan
kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan,
maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim, no. 2999)
Semoga Allah Ta’ala senantiasa
menjadikan kita termasuk dalam hadist tersebut, yaitu senantiasa bersabar atas
setiap ujian dan cobaan serta bersyukur atas setiap kenikmatan hingga Allah Ta’ala
memperkenankan kita masuk surganya tanpa hisab dan azab serta kekal didalamnya,
Aamiin.
[Dikutip dari
majalah donatur al-iman. edisi 8 vol.2 No.4 Desember 2016/Rabi’ul awal 1438H
hal.13-15 donatur? hubungi: 08563355846]
Comments
Post a Comment